Saturday, 18 June 2011

DETERIORASI BENIH

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kualitas benih yang terbaik tercapai pada saat benih masak fisiologis karena pada saat benih masuk fisiologis maka berat kering benih, viabilitas dan vigornya tertinggi. Perlu dicatat bahwa viabilitas dan vigor tertinggi yang dimaksud tidak harus 100%. Setelah masak fisiologis kondisi benih cenderung menurun sampai pada akhirnya benih tersebut kehilangan daya viabilitas dan vigornya sehingga benih tersebut mati. Proses penurunan kondisi benih setelah masak fisiologis itulah yang disebut sebagai peristiwa deteriorasi atau benih mengalami proses menua. Proses penurunan kondisi benih tidak dapat dihentikan tetapi dapat dihambat.Kemunduran benih dapat didefinisikan jatuhnya mutu benih yang menimbulkan perubahan secara menyeluruh di dalam benih dan berakibat pada berkurangnya viabilitas benih. Faktor-faktor yang mempengaruhi benih itu sendiri antara lain adalah faktor internal benih mencakup kondisi fisik dan keadaan fisiologinya, kelembaban nisbi dan temperature, kadar air benih, suhu, genetic, mikroflora, kerusakan mekanik (akibat panen dan pengolahan), dan tingkat kemasakan benih.

Kemunduran benih yang menyebabkan menurunnya vigor dan viabilitas benih merupakan awal kegagalan dalam kegiatan pertanian sehingga harus dicegah agar tidak mempengaruhi produktivitas tanaman. Sadjad (1994) menguraikan vigor benih adalah kemampuan benih menumbuhkan tanaman normal pada kondisi suboptimum di lapang, atau sesudah disimpan dalam kondisi simpan yang suboptimum dan ditanam dalam kondisi lapang yang optimum. Viabilitas benih merupakan daya hidup benih yang dapat ditunjukkan dalam fenomena pertumbubannya, gejala metabolisme, kinerja kromosom atau garis viabilitas sedangkan viabilitas potensial adalah parameter viabilitas dari suatu lot benih yang menunjukkan kemampuan benih menumbuhkan tanaman normal yang berproduksi normal pada kondisi lapang yang optitum. Adapun tujuan yaitu sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengertian dari kemunduran benih (deteriorasi) itu sendiri.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan benih.
3. Untuk mengetahui ciri prose deteriorasi atau kemunduran benih.
4. Untuk mengetahui tanda-tanda kemunduran benih
5. Untuk mengetahui kemungkinan penyebab kemunduran benih

6.Untuk mengetahui pengendalian kemunduran benih.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kemunduran Benih (Deteriorasi)

Kemunduran benih merupakan proses penurunan mutu secara berangsur-anngsur dan kumulatif serta tidak dapat balik (irreversible) akibat perubahan fisisologis yang disebabkan oleh faktor dalam. Kemunduran benih beragam, baik antarjenis, antarvarietas, antarlot, bahkan antarindividu dalam suatu lot benih. Kemunduran benih dapat menimbulkan perubahan secara menyeluruh di dalam benih dan berakibat pada berkurangnya viabilitas benih (kemampuan benih berkecambah pada keadaan yang optimum) atau penurunan daya kecambah. Proses penuaan atau mundurnya vigor secara fisiologis ditandai dengan penurunan daya berkecambah, peningkatan jumlah kecambah abnormal, penurunan pemunculan kecambah di lapangan (field emergence), terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatnya kepekaan terhadap lingkungan yang ekstrim yang akhirnya dapat menurunkan produksi tanaman (Copeland dan Donald, 1985).

Kemunduran benih adalah mundurnya mutu fisiologis benih yang dapat menimbulkan perubahan menyeluruh di dalam benih, baik fisik, fisiologi maupun kimiawi yang mengakibatkan menurunnya viabilitas benih (Sadjad, 1994).

Kemunduran benih dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Yang dimaksud laju deteriorasi adalah berapa besarnya penyimpanagna terhadap keadaan optimum untuk mencapai maksimum. Hal ini dipengaruhi oleh dua peristiwa, yaitu:

a. Merupakan sifat genetis benih

Kemunduran benih karena sifat genetis biasa disebut proses deteriorasi yang kronologis artinya, meskipun benih ditangani dengan baik dan faktor lingkungannya pun mendukung namun proses ini akan tetap berlangsung.

b. Karena deraan lingkungan

Proses in biasa disebut proses deteriorasi fisiologis. Proses ini terjadi karena adanya faktor lingkungan yang tidak sesuai dengan persyaratan penyimpanan benih, atau terjadi penyimpangan selama proses pembentukan dan prosesing benih.

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hidup Benih

Faktor-faktor yang mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan dibagi menjadi factor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup sifat genetik, daya tumbuh dan vigor , kondisi kulit dan kadar air benih awal. Faktor eksternal antara lain kemasan benih, komposisi gas, suhu dan kelembaban ruang simpan (Copeland dan Donald, l985).

1. Faktor internal benih

Faktor internal benih mencakup kondisi fisik dan keadaan fisiologinya. Contoh: benih yang retak, luka, dan tergores akan lebih cepat mengalami kemunduran. Faktorinduced selama perkembangan benih di lapangan mempengaruhi keadaan fisiologinya, sebagai contoh terjadi kekurangan mineral (seperti N, K, Ca), air, dan suhu yang ektrim di lapangan.

2. Kelembaban nisbi (relative humidity=RH) dan temperatur.

a. RH mempengaruhi kadar air benih, dan kadar air benih mempengaruhi mempengaruhi respirasi benih
b. RH lingkungan dipengaruhi oleh suhu (T) lingkungan
c. RH dan T saling berkaitan dan mempengaruhi kemunduran benih:

1) setiap penurunan kadar air 1% menggandakan masa hidup dua kali,

2)setiap penurunan suhu ruang simpan 5Co akan menggandakan masa hidup benih dua kali.

d. Untuk penyimpanan:

1)% RH + o F ≤ 100 (Harrington, 1973) (KA benih 514%)

2) % RH + o F ≤ 120 (Bass, 1973) s/d 3 tahun dengan proporsi o F ≤ 60

3. Kadar air benih (KA)

Menurut Harrington (1972), masalah yang dihadapi dalam penyimpanan benih makin kompleks sejalan dengan meningkatnya kadar air benih. Penyimpanan benih yang berkadar air tinggi dapat menimbulkan resiko terserang cendawan. Benih adalah bersifat higroskopis, sehingga benih akan mengalami kemundurannya tergantung dari tingginya faktor- faktor kelembaban relatif udara dan suhu lingkungan dimana benih disimpan.

· KA > 14% respirasi tinggi suhu meningkat, investasi cendawan

· KA < 5%; terjadi kerusakan membrana selular Kadar keseimbangan (KAK) benih adalah kadar benih air yang terbentuk oleh keseimbangan antara KA benih dengan RH lingkungannya.

· KAK fase 1 : KAK dengan RH 060%. Air terikat kuat dengan struktur kimia benih.

· KAK fase 2 : KAK dengan RH 6075%. Sebagian KA benih terikat lebih lemah daripada KA fase 1,

· KAK fase 3 : KAK dengan RH 75100%. Sebagian air benih adalah air bebas yang berada pada rongga antarsel benih yang mudah dihilangkan dengan pengeringan alamiah. Padi, jagung, gandum, sorgum (benih berpati/karbohidrat), kedelai (benih berprotein tinggi), kacang tanah (benih berlemak tinggi).

Menurut Chai et al., (2002), perkecambahan benih kedelai akan menurun dari perkecambahan awal yaitu diatas 90% menjadi 0% tergantung spesies dan kadar air selama penyimpanan. Dilain pihak Yaya

et al., (2003) menyatakan bahwa benih kedelai yang disimpan dengan kadar air 6% dan 8% selama 4 bulan pada suhu 15OC memiliki persentase perkecambahan diatas 70%.

4. Suhu (T)

Suhu ruang simpan berperan dalam mempertahankan viabilitas benih selama penyimpanan, yang diperungaruhi oleh kadar air benih, suhu dan kelembaban nisbi ruangan. Pada suhu rendah, respirasi berjalan

lambat dibanding suhu tinggi. Dalam kondisi tersebut, viabilitas benih dapat dipertahankan lebih lama. Pada periode simpan 0 minggu, benih belum mengalami masa penyimpanan, dan kadar air ditetapkan sebagai kadar air awal penyimpanan. Kadar air benih diukur dengan metode langsung yakni melalui proses pengovenan dengan suhu 103°C selama 18 jam. Perhitungan perkiraan kadar air benih dilakukan berdasarkan basis basah, yaitu bobot akhir benih setelah dioven dibagi bobot awal (basah) benih sebelum dioven dikali 100 persen (Mugnisjah et al. 1994).

a. pada T = 00C dan KA > 14% dapat terbentuk kristal es pada ruang antarsel dalam benih

b. pada T < 00C dan KA < 14% tidak membentuk kristal es, tetapi benih akan meningkat KA-nya

c. Pada umumnya pada ruang dengan T rendah dan RH tinggi sehingga KA akan tinggi.

5. Genetik

a. Benih berentang hidup panjang (Benih Fosil):

1) Lupin : 10.000 th masih hidup (tertimbun di tanah gambut kanada) Porsild dan Harrington, 1967)

2) Indian lotus : 120-400 th masih hidup (terbenam di dasar danau di Mansuria)(Ohga, 1926)

3) 3)Benih2 ortodoks lain: Albizia, Cassia, Trifolium,

b. Benih berentang hidup pendek:

1) Accer saccharinum : beberapa hari saja setelah lepasdari induknya sudah mati

2) Zizzania aquatica : Willow, poplar, kapas, dll benih rekalsitran (shorea, cacao, mangga)

6. Mikroflora

a. Terbawa dari lapangan : optimum hidup pada RH 90-95% atau KA benih 30-35%

b. Cendawan gudang : optimum hidup pada RH 60-90%

1) Aspergillus sp. atau KAK pada RH itu

2) Penicilliumsp.

7. Kerusakan mekanik (akibat panen dan pengolahan)
a. terutama pada bagian embrio
b. pada bagian non embrio dapat meningkatkan serangan mikroflora

8. Tingkat kemasakan benih

Potensi mutu terbaik dicapai pada saat benih telah mencapai masak fisiologi (MF).

a. Benih kurang masak, potensi mutunya masih kurang tinggi

b. Benih lewat masak di lapangan, potensi sudah mulai turun oleh deraan cuaca di lapangan

C. Ciri proses deteriorasi

Benih yang mengalami proses deteriorasi akan menyebabkan turunnya kualitas dan sifat benihjika dibandingkan pada saat benih tersebut mencapai masa fisiologinya.

Turunnya kualitas benih dapat mengakibatkan viabilitas dan vigor benih menjadi rendah yang pada akhirnya akan mengakibatkan tanaman menjadi buruk. Hal ini dapat dilihat pada tanaman di lahan yang memiliki viabilitas yang tinggi dan hasil panen yang menjadi jelek.

RC. Mabesa (1993) mencirikan proses deteriorasi sebagai berikut :

· Proses ini merupakan proses yang tidak dapat ditawar, pasti terjadi pada semnua benih. Yang berbeda hanyalah laju deteriorasinya saja.

· Proses ini merupakan proses yang searah. Benih yang telah mengalami deteriorasi tidak akan kembali ke keberadaan semula, meskipun dengan memberikan perlakuan tertentu padanya.

· Proses ini pada saat benih telah mencapai masak fisiologis sangat rendah lajunya. Laju deteriorasi benih ini di waktu kemudian berhubungan erat dengan kondisi linkungan dan penanganannya.

· untuk tumbuh terus ke permukaan lahan. Hal inilah yang sering menyebabkan adanya perbedaan nilai persentase viabilitas benih di dalam pengujian di laboratorium dengan kenyataan benih/ kecambah yang dapat tumbuh terus di lading. Bagi petani yang penting adalah niali persentase benih/ kecambah yang dapat tumbuh di lahan.

· Banyak kecambah abnormal. Jika kita mengecambahkan benih yang telah mengalami deteriorasi maka persentase kecambah abnormal akan meningkat yang kemudian menyebabkan persentase viabilitas benih menjadi rendah karena yan akan dihitung hanyalah kecambah normal.

· Enzim menjadi aktif. Dalam benih yang mengalami deteriorasi aktivitas enzimnya jauh berkurang atau bahkan tidak berfungsi. Hal ini disebabkan terjadinya perombakan/ penguraian enzim yang selanjutnya akan menghambat atau bahkan menyebabkan benih kehilangan kemampuannya untuk berkecambah.

· Terjadinya kebocoran sel. Benih yang telah mengalami deteriorasi bila mengalami deteriorasi bila mengalami imbibisi akan terjadi kebocoran membrane sel sehingga ada unsure-unsur yang keluara dari benih. Kebocoran ini menyebabkan benih menjadi kekurangan bahan yang dapat dirombak untuk menghasilkan tenaga yang dibutuhkan untuk proses sintesa protein guna pembentukan dan pertumbuhan sel-selnya. Akibatnya, akan banyak ditemukan kecambah abnormal atau bahkan benih yang tidak mampu berkecambah sama sekali.

· Rentang persyaratan berkecambah menjadi lebih sempurna. Setiap benih memiliki persyaratan agar benih tersebut tetap mampu berkecambah. Pada benih yang telah mengalami deteriorasi, rentang ini menjadi lebih sempit atau seringkali dikatakan bahwa benih tersebut sangat peka terhadap kondisi lingkkungan.

· Keragaman tinggi. Benih yang telah mengalami deteriorasi jika dikecambahkan/ ditanam di lahan keragamannya akan tinggi (tidak seragam pertumbuhannya).

· Penurunan hasil panen. Hasil panen akan menurun jika petani dalam ussaha taninya memakai benih yang telah mengalami deteriorasi, terutama karena akibat keragaman tanaman di lahan.

· Perubahan warna. Benih yang telah mengalami deteriorasi warnanya akan berubah, halmiini biasanya dipakai sebagai salah satu tolak ukur pertama, meskipun kendala yang kita hadapi perubahan ini sangat subyektif.

Proses yang terjadi pada benih yang mengalamiproses deteriorasi menurut JC. Delouche sebagai berikut:

o Kerusakan membrane pada benih yang menua akan mengakibatkan kerusakan dinding sel sehingga mengakibatkan terjadinya kebocoran jika benih berimbibisi.

o Proses biosintesis yang tak berimbang

o Ketidakseimbangan proses biosintesis yang disebabkan proses katabolisme dan anabolisme yang tidak sinkron akan mengganggu proses perkecambahan benih.

o Laju perkecambahan dan perkembangan kecambah lambat dan tidak seragam. Pada benih yang telah menua juka masih dapat berkecambah maka pertumbuhan/ perkembangan kecambahnya lambat dan tidak merata.

o Rentan terhadap stress faktor lingkungan. Benih yang telah menua akan sangat peka terhadap perubahan faktor lingkungan pada saat dikecambahkan.

o Kondisi kecambah jelek. Kecambabh yang dihasilkan kondisinya jelek sekali

o Penyimpang morfologis. Kecambah yang terbentuk tidak normal. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya persentase kecambah abnormal.

o Tidak berkecambah. Benih yang dikecambahkan tidak

o berkecambah meskipun benih tersebut sebenarnya belu mati.

o Mati (death). Benih mati dapat diketahui dengan uji tetrazolium.

D. Tanda-tanda Kemunduran Benih

1. Gejala Fisiologis

Menurut Toole, Toole dan Gorman (dalam Abdul Baki dan Anderson. 1972), kemunduran benih dapat ditunjukkan oleh gejala fisiologis sebagai betikut: (a) terjadinya perubahan warna benih (b) tertundanya perkecambahan; (c) menurunnya, toleransi terhadap kondisi lingkungan sub optimum selama perkecambahan (d) rendahnya toleransi terhadap kondisi simpan yang kurang sesuai (e) peka terhadap radiasi; (f) menurunnya pertumbuhan kecambah; (g) menurunnya daya berkecambah, dan (h) meningkatnya jumlah kecambah abnormal. Abdul Baki dan Anderson (1972) mengemukakan indikasi biokimia dalam benih yang mengalami kemunduran viabilitas adalah sebagai berikut: (a) perubahan aktivitas enzim (b) perubahan laju respirasi; (c) perubahan di dalam cadangan makanan; (d) perubahan di dalam membran, dan (e) kerusakan kromosom.

Gejala fisiologis dipengaruhi pula oleh:

a. Aktivitas enzim menurun: dehidrogenase, glutamat dekarboksilase, katalase, peroksidase, fenolase, amilase, sitokrom oksidase.

b. Respirasi menurun : konsumsi O2 rendah, produksi CO2 rendah, produksi ATP rendah

c. Bocoran metabolit meningkat: menjadikan nilai daya hantar listrik meningkat dan gula terlarut menigkat

d. Kandungan Asam Lemak Bebas meningkat:

1) Lipid: asam lemak + gliserol

3. Ribosom tidak mampu berdisosiasi: sintesis protein terhambat

4. Degradasi dan Inaktivasi Enzim: perubahan struktur makromolekul enzim

menurunkan aktivitasnya.

komposisi : - grup fungsional (hilang/mengikat)
- oksidasi gugus sulfhidril
- perubahan asam amino dalam protein

konfigurasi: - penglipatan atau pelurusan
- penggumpalan atau polimerisasi
- pemutusan menjadi sub2 unit

5. Pengaktifan/Pembentukan Enzim-enzim Hidrolitik: Bila KA benih > 20%, cukup untuk mengaktifkan enzim2 hidrolotik (lipase, fosfolipase, fosfatase, amilase)
6. Degradasi Genetik sebagai penyebab utama ketuaan
7. perubahan sifat kromosom (selaras dengan penuaan)

a. mutasi genetik; berkorelasi dengan ketuaan dan hilangnya viabilitas

8. Habisnya cadangan makanan (sudah tidak diterima)

9. Kelaparan sel meristematik: jauhnya jarak antara cadangan makanan

dengan sel-sel meritematik

10. Akumulasi senyawa beracun (toxic)
a. embrio baik pada endosperm tua
b. embrio tua pada endosperm baik
Keduanya : menunjukkan vigor dan perkecambahannya buruk

F.Pengendalian Kemunduran Benih

Dalam kegiatan pertanian, terjadinya kemunduran benih merupakan salah satu faktor penyebab menurunnya produktivitas tanaman sehingga hal ini hanrus dihindari. Hasil-hasil penelitian menunjukkan dengan memberikan perlakuan pada benih yang memperlihatkan gejala kemunduran, dapat memperbaiki kondisi benih.

Murray dan Wilson (1987) melaporkan kemunduran benih dapat dikendalikan dengan cara "invigorasi" melalui proses hidrasi-dehidrasi. Sadjad (1994) mendefinisikan invigorasi sebagai proses bertambahnya vigor benih.

Dengan demikian perlakuan invigorasi adalah peningkatan vigor benih dengan memberikan perlakuan pada benih. Menurut Khan (1992) perlakuan pada benih adalah untuk memobilisasi sumber-sumber energi yang ada dalam benih untuk bekerja sama dengan sumber-sumber energi yang ada di luar atau di lingkungan tumbuh untuk menghasilkan pertanaman dan hasil yang maksimal.

Perlakuan benih yang telah dikenal antara lain presoaking dan conditioning. Menurut Khan (1992) presoaking adalah perendaman benih dalam sejumlah air pada suhu rendah sampai sedang, sedangkan conditioning adalah peningkatan mutu fisiologi dan biokimia (berhubungan dengan kecepatan dan perkecambahan, perbaikan serta peningkatan potensial perkecambahan) dalam benih oleh media imbibisi potensial air yang rendah (larutan atau media padatan lembab) dengan mengatur hidrasi dan penghentian perkecambahan. Benih menyerap air sampai potensial air dalam benih dan media pengimbibisi sama (dicapai keseimbangan potensial air). Presoaking dalam periode singkat menghasilkan efek yang cukup baik terhadap peningkatan perkecambahan dan pertumbuhan kecambah. Pengeringan tidak mengurangi pengaruh positif dari presoaking (Kidd and West dalam Khan, 1992). Perlakuan presoaking berpengaruh baik pada benih yang bervigor sedang.

Hadiana (1996) melaporkan perlakuan presoaking atau conditioning secara nyata efektif meningkatkan viabilitas dan vigor benih sebelum penyimpanan, dapat meningkatkan daya berkecambah potensi tumbuh, keserempakan tumbuh, dan bobot kering kecambah normal.

Benih bermutu merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam budidaya tanaman cabai. Suplai benih untuk musim tanam berikutnya, mengharuskan terjadinya proses penyimpanan benih. Apabila penyimpanan tidak ditangani dengan baik, maka benih akan mudah mengalami kemunduran sehingga mutunya menjadi rendah. Disamping itu, perkecambahan cabai lambat dan tidak seragam. Ilyas (1994) menyatakan bahwa benih cabai memerlukan imbibisi yang lama sebelum berkecambah dan suhu yang agak tinggi untuk mencapai perkecambahan maksimum.

Menurut Khan et al. (1992), imbibisi pada benih yang dilakukan secara tiba-tiba apalagi terhadap benih dengan kadar air sangat rendah dan benih yang mengalami penyimpanan yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada struktur membran sehingga perlu suatu kondisi dimana imbibisi dilaksanakan secara terkontrol. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan invigorasi benih yaitu dengan cara mengkondisikan benih sedemikian rupa sehingga karakter fisiologi dan biokimiawi yang terdapat di dalam benih dapat dimanfaatkan secara optimal.

Perlakuan benih secara fisiologis untuk memperbaiki perkecambahan benih melalui imbibisi air secara terkontrol telah menjadi dasar dalam invigorasi benih. Saat ini perlakuan invigorasi merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi mutu benih yang rendah yaitu dengan cara memperlakukan benih sebelum tanam untuk mengaktifkan kegiatan metabolisme benih sehingga benih siap memasuki fase perkecambahan. Selama proses invigorasi, terjadi peningkatan kecepatan dan keserempakan perkecambahan serta mengurangi tekanan lingkungan yang kurang menguntungkan. Invigorasi dimulai saat benih berhidrasi pada medium imbibisi yang berpotensial air rendah. Biasanya dilakukan pada suhu 15-20oC. Setelah keseimbangan air tercapai selanjutnya kandungan air dalam benih dipertahankan (Khan, 1992)

Berbagai cara dapat dilakukan sehubungan dengan perlakuan invigorasi benih sebelum tanam yaitu osmoconditioning, priming, moisturizing,hardening, humidification, solid matrix priming, matriconditioningdan hydropriming. Namun demikian cara yang umum digunakan adalahos m oconditioning (conditiong dengan menggunakan larutan osmotik seperti PEG, KNO3, KH2PO4, NaCl dan manitol) dan matriconditioning(conditioning dengan menggunakan media padat lembap, seperti Micro-Cel E, Vermikulit, juga telah dipelajari beberapa media alternatif antara lain abu gosok dan serbuk gergaji).

Benih yang dipanen lewat masak fisiologis biasanya sudah mengalami penurunan mutu. Untuk mengatasi permasalahan terjadinya kemunduran mutu benih baik yang diakibatkan oleh faktor penyimpanan maupun diakibatkan oleh faktor kesalahan dalam penanganan benih, salah satunya dapat dilakukan dengan melakukan teknik invigorasi (perlakuan fisik atau kimia untuk meningkatkan atau memperbaiki vigor benih). Perlakuan ini sudah banyak dilakukan pada beberapa tanaman seperti tanaman padi dan kedelai. Pada tanaman jambu mete perlakuan invigorasi dapat meningkatkan daya berkecambah, kecepatan tumbuh dan berat kering benih jambu mete.

Untuk mengatasi permasalahan terjadinya kemunduran mutu benih baik yang diakibatkan oleh faktor penyimpanan maupun diakibatkan oleh faktor kesalahan dalam penanganan be-nih, dapat dilakukan dengan melakukan teknik “invigorasi”. Invigorasi adalah suatu perlakuan fisik atau kimia untuk meningkatkan atau memperbaiki vigor benih yang telah mengalami kemun-duran mutu (Basu dan Rudrapal, 1982).

BAB III

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembahasan makalah kemunduran benih ini adalah bahwa benih yang telah mengalami deteriorasi akan menampakkan gejala sebagai berikut:

1. Gejala Fisiologis:

a. Perubahan warna benih

b. Mundurnnya perkecambahan

c. Mundurnya toleransi terhadap SOF
d. Mundurnya toleransi terhadap penyimpanan
e. Sangat peka terhadap radiasi
f. Mundurnya pertumbuhan kecambah
g. Mundurnya daya kevigoran (kekuatan tumbuh)
h. Meningkatnya jumlah kecambah abnormal

2. Gejala Biokhemis

a. Perubahan dalam respirasi

b. Perubahan enzim

c. Perubahan pada membrane sel/ dinding sel
d. Perubahan laju sintesis
e. Perubahan persediaan makanan

f. Kerusakan kromosom.

Kemungkinan penyebab kemunduran benih antara lain yaitu:

1. Autoxidasi lipid

2. Degradasi struktur fungsi

3. Ribosom tidak mampu berdisosiasi

4. Degradasi dan inaktivasi enzim

5.Pengaktifan/ pembentukan Enzim-enzim Hidrolitik

6. Degradasi Genetik sebagai penyebab utama ketuaan
7. perubahan sifat kromosom (selaras dengan penuaan)
8. Habisnya cadangan makanan (sudah tidak diterima)
9. Kelaparan sel meristematik
10. Akumulasi senyawa beracun (toxic)

Untuk mengatasi permasalahan terjadinya kemunduran mutu benih baik yang diakibatkan oleh faktor penyimpanan maupun diakibatkan oleh faktor kesalahan dalam penanganan be-nih, dapat dilakukan dengan melakukan teknik “invigorasi”. Invigorasi adalah suatu perlakuan fisik atau kimia untuk meningkatkan atau memperbaiki vigor benih yang telah mengalami kemun-duran mutu (Basu dan Rudrapal, 1982).

DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/32311576/Makalah-Tekben-Kemunduran-Benih-03

di askes pada hari selasa 15 juni 2011

2 comments: